banner 728x250
Berita  

Bedah Buku “Buku Hitam Prabowo Subianto” di Bogor, Upaya Konsisten Cegah Pelanggar HAM Masuk Istana

banner 120x600
banner 468x60

Bogor – Antusiasme generasi muda Kabupaten Bogor untuk mengetahui dan memahami jejak rekam para kontestan Pilpres 2024 yang akan datang cukup tinggi, hal itu terpotret dari Gelaran diskusi Bedah Buku “Buku Hitam Prabowo Subianto, Sejarah Kelam Reformasi” yang di tulis oleh Buya Azwar Furqudyama di Kedai Kopi Pemuda, Cibinong Bogor, Rabu (20/12/2023). Diskusi di gelar oleh Gerak98 dan Aliansi Masyarakat Bogor Bersatu (AMBB).

KH. Husni Mubarak Amir, Ulama Muda NU yang menjadi pembicara menjelaskan bahwa ia sangat mengapresiasi lahirnya buku ini.

banner 325x300

“Saya mengapresiasi lahirnya buku ini. Kalau tidak salah buku ini terbit 2 hari sebelum debat capres-cawapres 2024. Ini bagian dari hak moral yang sudah dilakukan oleh Buya Azwar untuk generasi muda Indonesia. Karena buku ini menjelaskan tentang sejarah kelam republik ini.” tegasnya.

“Ini penting untuk diketahui oleh semua orang, terutama generasi muda yang akan menjadi pewaris negeri ini. Bahwa lewat buku ini kita tahu apa saja yang menjadi rekam jejak dari tokoh-tokoh bangsa yang hari ini masih beredar dalam pusaran politik nasional. Terutama tentu calon presiden 2024 yakni Prabowo Subianto, ini informasi yang layak dikunyah oleh para calon pemilih, agar mendapat pemimpin yang berkualitas, dan tentunya rekam jejaknya tidak punya benturan dengan kasus kemanusiaan, yakni pelanggaran HAM Berat. Rekam jejak itu penting, sebagai mana firman Allah dalam Al-Qur’an.” sambungnya.

Selanjutnya Dr. Mastur Thoyyib, akademisi Bogor yang juga pelaku perlawanan pada tahun 1980-an juga mengapresiasi terbitnya buku ini.

“Ini penting untuk kaum muda sebagai pewaris ya, penyebaran ilmu pengetahuan yaa,ini karya ilmiah, jadi harus di apresiasi.” tukasnya.

“Saya apresiasi buku ini sebagai warisan bagi kaum muda yang mau berfikir dan tentu saja bergerak. Ini hasil potretan ya. Pemotretan bisa benar bisa salah, tapi paling tidak ini memang potret dari sejarah kelam bangsa ini. Bahkan tahun2 saat itu memang kita ada dibawah sepatu lars tentara, karena memang saat orba kita hidup dibawah rezim militer.” tambahnya.

Ia juga berharal ini bukan buku pertama dan terakhir. Namun semoga lahir buku berikutnya yang memotret sejarah kelam militerisme di Indonesia.

Ia menjelaskan, sejarah politik Indonesia adalah sejarah politik kekerasan militerisme. Hampir semua penguasa berhadapan dengan militer, baik Soekarno, Habibie, Mega, semua berhadapan dengan militer.

“Ini fakta sejarah. Maka kita layak apresiasi buku ini untuk menjadi rujukan literasi untuk kaum millenial. Bukan hanya untuk Pemilu saja, ini sumbangan berjasa. Jika ideologi militerisme hidup, maka akan menjadi ladang kekerasan dan akan dipastikan tragedi pasti terjadi.” tegasnya.

Menurutnya hal ini harus dihambat. Ia menambahkan bahwa sudah betul sipil melalui demokrasi, harus menjadi kontrol kehidupan kita.

“Tugas pemerintah ada dua, rasa aman dan kesejahteraan, ini tugas utamanya.” ulas Mastur.

Mulyadi, aktivis 98 Pakuan Bogor juga memuji terbitnya buku ini. Ia menilai buku ini sebagai warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

“Saya kira buku ini bagus sekali ya, ini warisan berharga buat anak cucu kita, buat generasi millenial. Bahwa rezim militeristik orde baru sangat biadab, sangat mengerikan. Makanya saya nyatakan bahwa pilihan politik untuk terus melawan orde baru, atau new orde baru, untuk tidak kembali ke masa orde baru dengan cara kalahkan Prabowo Subianto di Pemilu 2024.” tegasnya.

“Karena ini watak. Jika berkuasa, saya kita watak militeristik orde Baru akan kembali hidup.” pungkasnya.

Facebook Comments Box
banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *